Thursday, October 25, 2007

Cerita dari Rambong (1) : Pulang Kampung Beneran !

Wahhhhh…. senangnya akhirnya bisa kembali nge-Blog, setelah kurang lebih seBulanan ngga nongol, Oh Ya..sebelumnya…mumpung masih di bulan Syawal, Fatah pengen ngucapin Selamat Idul Fitri 1428 H (telat banget ngga sih ?) Mohon Maaf atas segala kesalahan, baik itu berupa komentar-komentar yang agak menyingung ataupun tidak sempatnya Saya membaca dan memberi komentar pada teman-teman blogger semua :)

Masih dalam suasana Lebaran, saya pengen cerita dikit nih tentang perjalanan lebaran Saya kemarin, kebetulan Lebaran kemarin saya berkesempatan pulang ke kampung yang “beneran”, maksudnya “beneran” itu soalnya walaupun secara fisik saya sudah tinggal di Aceh, tapi karena sehari-hari tinggalnya di pinggiran Banda Aceh jadinya belom bisa dibilang pulang kampung “beneran”, karena Banda Aceh itu mirip-mirip kota Jakarta, tempat dimana para perantau asal daerah Aceh lainnya mencari kerja.

Nahh kebetulan Bapak-Ibu saya itu berasal dari desa “Rambong”, Kecamatan Beurneun, Kabupatan Pidie yang Ibukotanya Sigli, jadi kesimpulannya, Ibu-Bapak saya itu bisa dibilang sebagai orang Sigli, atau bisa juga dibilang sebagai orang Pidie, atau juga orang Beurneun, atau juga bisa dibilang orang Rambong, atau mau dibilang orang Aceh juga bisa :)

Pidie sendiri adalah suatu kawasan (kabupaten) yang terkenal akan orang-orangnya yang jago merantau dan jago berbisnis (berdagang), banyak orang Pidie yang sukses merantau (baik ke Banda Aceh, ataupun ke Kota-kota besar), dan juga sukses berdagang, salah satu orang Pidie yang merantau yaaa…Bapak saya, itulah sebabnya saya menjadi orang Aceh yang ngga bisa bahasa Aceh, karena Ibu saya melahirkan dan membesarkan Saya di Jakarta (tempat rantauannya orang tua).

Desa Rambong, sebuah desa yang besarnya hampir mirip komplek pajak kemanggisan (tempat saya tinggal di Jakarta) atau komplek-komplek lain di-Jakarta adalah salah satu desa di Pidie yang bisa dibilang sudah menjadi desa yang maju atau desa yang modern, salah satu indikatornya adalah banyaknya rumah-rumah beton yang dibangun, jalan yang sudah diaspal dan juga mobil-mobil mahal yang dimiliki orang para penduduknya.

Saya sendiri sudah sempat melihat-lihat beberapa Desa (Gampong) di Pidie, dan sepertinya desa Rambong memang boleh dibilang desa yang lebih bagus infrastrukturnya, dan juga banyak dari penduduknya yang telah berhasil mengumpulkan uang, namun demikian, desa tetaplah desa, artinya masih ada warganya yang menjadi petani, masih banyak sawah-sawah disini, masih banyak juga rumah-rumah Aceh-nya, dan tentunya udara pedesaan yang tetap segar.

Jalan didepan rumah di Desa Rambong
" perpaduan antara pedesaan dan sedikit kota :) "

Oh ya.. selain dikenal dengan kawasan para perantau, Pidie juga menjadi terkenal karena pernah menjadi pusat dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM), banyak para tokoh-tokoh pendiri GAM yang berasal dari Pidie, dan juga ketika masa-masa konflik dulu, Pidie menjadi salah satu kawasan yang paling ‘seram’ !

Saya masih ingat cerita Ibu saya yang ketika itu sempat pulang kampung pada masa-masa konflik dulu, pernah suatu saat ketika sedang memasak didapur, tidak sengaja ada panci yang tersengol sehingga jatuh ke lantai yang secara otomatis menimbulkan suara ‘panci jatoh’ dan ketika itu juga secara refleks para penghuni rumah yang mendengar bunyi ‘panci jatoh’ langsung serentak tiarap di lantai ! karena dikira suara peluru.

Mungkin teman-teman ada yang ngga percaya, tapi itulah yang memang terjadi pada waktu itu, belum lagi cerita sepupu saya yang sedang belajar dikelas harus terganggu oleh bunyi-bunyi baku tembak antara TNI dan GAM dan tidak hanya bunyi-bunyi saja, sesekali ada lah satu dua peluru nyasar menghantam dinding-dinding sekolah. Mungkin kira-kira begitulah gambaran suasana konflik di Pidie ketika itu.Tapi itu dulu, sekarang Alhamdulillah perdamaian telah merubah kehidupan disini.

Oke deh Mungkin ini aja dulu yang bisa saya tulis, sekedar pengantar tentang profil singkat Desa Rambong, kampung “beneran” saya, dan juga sekedar postingan perdana, setelah hampir sebulanan menelantarkan blog ini, sampai juga diposting berikutnya yaa.. ^.^

8 comments:

Nico Wijaya said...

Wooii..Eh wa'alaikumussalam, kmane aje lo tah, ga ada kbar britanya kmaren. Oiyya Maaf lahir batin ya..

Nona Nieke,, said...

ohh.. jadi gitu tho sejarahnya knapa mas Fatah ini gak bisa bahasa Aceh..
trus, kalo orang Beureun itu banyak yg sukses dagang, kalo org Aceh yg sukses jadi artis itu biasanya Aceh mana ya mas? :D

owya mas Fatah, maaph lahir bathin ya..
slamat Idul Fitri juga :)

btw mas Fatah,
I'm back! :)

CempLuk said...

wah asik nya pulkam..mhn maaf lahir dan batin juga mas..berarti fasih bahase jakarte dunk yee.. :D

Fatah said...

*Nico Wijaya : ngga kemana-mana sebetulnya, cuma lagi ngga sempet nge-Net aja :( tapi I'm Back loh !!

*Nieke : kalo ngga salah kampungnya si Cut Tari & si Nova Eliza itu di Sigli masih di Kabupaten Pidie juga kan mereka2x itu pada nge-Rantau ke Jakarta juga :D

*Cempluk : kalo soal bahasa jakarte, aye mah dah rada-rada lupe gitu dah !

Elvi said...

Met lebaran jg nih...maaf kalo ada salah2! Jangan lupa...bekas gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud juga dari Breunun lho. Kebetulan tetanggaan kami!

Dew said...

Maaf lahir-batin. :)

Jadiii... Oom Fatah dagang apaan niy? Hihihi.

Fatah said...

*Elvi : Tetanggaan ?? berarti kak Elvi orang Beurneun juga dong ??

*Mba Dew : dulu sih dagang buku pake toko buku online gitu deh !! cuma bangkrut tuh :(

Roulette Online said...

Quite right! I think, what is it good idea.