---
Ketika Lebaran tiba, tidak anak-anak saja yang memiliki tradisi “Perang Lebaran”, disini (Desa Garut) mulai dari anak-anak sampai orang tua pun terlibat dalam “peperangan” ini, tapi lagi-lagi tidak perlu khawatir, karena perang ini tidak akan menimbulkan korban nyawa, walaupun bisa jadi akan menimbulkan banyak “korban” rusaknya pendengaran.
Perang yang satu ini, walaupun tidak menggunakan peluru tajam, tapi bunyi yang ditimbulkan akibat perang ini bagaikan Bom Nagasaki-Hirosyima, perang yang saya maksud adalah “Perang Meriam Bambu !!” inilah perang-perangan ala Desa Garut, setiap kali Malam Takbiran datang, maka penduduk Desa ini selalu membuat Meriam Bambu yang walaupun tidak ada pelurunya tapi setiap kali Meriam ini dinyalakan maka siap-siap saja kita menutup kedua telinga kita serapat-rapatnya.
Desa ini setau saya (belum yakin banget) dipisahkan oleh sebuah sungai, sehingga pertempuran antara dua kubu pun juga dipisahkan oleh sungai, yang satu disebarang sana yang satunya lagi disebelah sini, kalau diibaratkan mungkin seperti situasi Perang Dunia ke-2 dimana pasukan Sekutu berusaha merebut jembatan penting yang dipertahankan oleh pasukan Jerman.
Karena perang ini tidak memakai peluru, tolak ukur yang dipakai untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah ditentukan oleh siapa yang paling besar suara meriamnya, karena ini inti dari Meriam Bambu tersebut adalah menciptakan suara ‘BUUUUMMM !!!” se-keras-kerasnya !! indikatornya yang menjadi pemenang adalah tepukan para penonton (yang tidak hanya dari desa Garut saja karena pertunjukkan spektakuler ini juga menjadi tontonan bagi para penduduk desa-desa lainnya), siapa yang bisa menghasilkan suara paling besar maka penonton pun akan langsung memberikan applause, begitu pula sebaliknya siapa yang menghasilkan suara yang ‘melempem’, maka siap-siap saja diberi teriakan “Huuuuuuu….” oleh para penoton, tapi pada akhirnya sih sebenarnya tidak ada yang kalah dan yang menang karena semuanya hanya untuk senang-senang saja.
Sebenarnya yang menjadi “Weapon of Mass Destruction” dalam perang ini tidak hanya meriam bambu saja, ada lagi yang senjata yang lebih powerful (tapi saya ngga ada fotonya), saya sendiri tidak tau nama senjatanya apa, yang saya tau hanya cara membuatnya, yaitu dengan membuat lubang ditanah dan ditanah tersebut akan ditanam sebuah “tong” yang didalam tong tersebut akan di isi karbit dan setelah terisi karbit langsung dinyalakan dengan obor.
Begitu dinyalakan, suara sekeras Bom Atom pun akan langsung Menggelegar !!! bukan hanya itu, senjata ini lebih dari sekedar menghasilkan bunyi keras saja, getaran yang diakibatkan oleh senjata yang ditanam ke tanah ini bisa menghasilkan “gempa lokal” bagaikan gempa berkekekuatan 3,5 scala richter (kira-kira) !! ini cukup membuat mobil-mobil disekitar, bangungan-bangunan disekitar dan juga jembatan disekitar arena pertempuran akan merasakan sedikit getaran..

Sisi Negatif-nya
Perang ini memang penuh dengan adrenaline rush !! menyenangkan !! , dan tentunya sangat mengibur !! namun ada beberapa sisi negatif dari tradisi ini yang saya kurang setuju, pertama perang ini diadakan ketika malam takbiran, sehingga pada saat itu di Desa Garut suara Takbiran dimesjid-mesjid ataupun di Meunasah-Meunasah kalah telak dengan suara dari Meriam-meriam tersebut.
Yang kedua, perang ini memakan biaya yang cukup mahal, kalau menurut sepupu saya, hampir setiap pengusaha Garut yang merantau akan dimintai jatah sebesar 1-5 jutaan untuk dibelikan karbit !! dan jika diestimasi total biaya ini bisa memakan biaya sampai puluhan juta rupiah !! sayangkan jika uang-uang tersebut hanya menjadi ‘suara’ saja ?? Mungkin jika memang bangsa ini sudah makmur..bolehlah !! tapi kita kan belum makmur… :(
Mungkin jalan keluar terbaik adalah, pertama, adakan perang ini setelah malam takbiran, agar tidak mengganggu kegiatan takbiran di Masjid-Masjid atau di Meunasah-Meunasah, dan sebagai gantinya adakan suatu kegiatan yang lebih ‘takbiran’ atau lebih ke-arah ‘sedih’ kita ketika ditinggal Ramadhan, usulan saya yang kedua, jadikan kegiatan ini sebagai sesuatu yang menjual bagi para turis “domestik” atau jika mungkin turis “mancanegara”, sehingga uang yang dibeli untuk karbit dengan sendirinya akan balik modal dengan pendapatan dari para pedagang-pedangang Desa Garut yang berjualan kita para turis-turis itu mendatangi “War Zone”.
Tapi masalahnya emangnya ada yang mau dengerin usulan saya :(