Saturday, January 26, 2008

SAMPAH-SAMPAH TSUNAMI

Tak terasa, Tiga tahun sudah Gempa Bumi & Tsunami melanda provinsi NAD, walaupun kejadian tersebut sudah berlalu 3 tahun yang lalu, tapi tampaknya terlalu banyak kenangan yang tidak akan pernah terlupakan, mulai dari kesedihan para korban yang ditinggal sanak saudaranya, para korban yang trauma, para korban yang kehilangan tempat tinggal ataupun kehilangan sumber mata pencahariannya.

Selain itu sampai sekarang pun banyak peninggalan-peninggalan Tsunami berupa fisik yang masih bisa kita temui, baik itu berupa Tugu-Tugu (monument-monumen) Tsunami, Masjid-Masjid yang selamat dari terjangan Tsunami, ataupun Kuburan-Kuburan Masal yang sering di ziarahi oleh sanak keluarga yang selamat.

Dan salah satu peninggalan Tsunami lainnya yang masih tersisa sampai sekarang adalah Sampah-Sampah yang disebabkan oleh Tsunami, yang ternyata !! sampai sekarang pun belum semua Sampah-Sampah tersebut berhasil dibersihkan, tapi jangan kamu bayangkan sampah yang dimaksud disini adalah sejenis Bungkus Mie Instant, Bungkus Permen, Bungkusan Plastik ataupun bentuk-bentuk sampah-sampah yang biasa sering kita temui. Ini Tsunami bung !! jadi sampahnya pun juga harus dahsyat dong !!

Oke kita mulai cerita lengkapnya, semuanya berawal dari rutinas Saya setiap harinya, yaitu singgah terlebih dahulu ke Statiun Labi-Labi di Keudah sehabis pulang dari kantor, maklum Saya ini kan kemana-kemana selalu naik Labi-Labi, Nahh… kebetulan Lokasi Stasiun Labi-Labi itu berada dekat dengan hamparan Sungai (kali) yang membelah kawasan Peunayong dan beberapa kawasan di Banda Aceh.

Pada suatu hari, ketika Saya sedang jalan kaki menyusuri pinggiran sungai menuju Masjid Raya Baiturrahaman, terlihatlah kerumuman orang-orang yang sepertinya sedang serius melihat ke bawah sungai.


Rame-rame ngeliat ke bawah sungai

Rasa penasaran pun muncul, “Ada apa ya ?? kenapa banyak sekali orang yang ngeliat ke bawah sungai ??” dan Ketika semakin dekat, terlihatlah dua buah perahu yang digabung menjadi satu.


Semakin dekat lagi, terlihatlah katrol berukuran besar.


Tapi itu semua belum bisa menjawab pertanyaan “Ada apa ya ??” kenapa orang-orang serius sekali ngeliat ke bawah sungai ??” dan ketika Saya sudah benar-benar dekat dengan “Tempat Kejadian” barulah pertanyaan itu terjawab…


Ketika saya melihat sebuah mobil ditarik ke atas pinggiran sungai, tanpa berpikir panjang dan tanpa banyak bertanya-tanya, saya sudah bisa langsung menebak, “ini pasti sampah-sampah peninggalan Tsunami !!”.

Pada awalnya Saya tidak terlalu tertarik untuk ngeliatin Sampah-Sampah tsunami ditarik dari sungai. Karena pada waktu itu saya pikir, “Ahh… itu paling cuma satu buah mobil yang kebetulan terserat arus Tsunami ke sungai aja..”.

Tetapi ternyata dugaan saya salah besar, karena ketika keesokan harinya Saya lewat di tempat yang sama dan “Tim Pemburu Sampah Tsunami” pun kembali berhasil mendapatkan sampah-sampah lainnya..



Hari berikutnya Sebuah Genset berhasil ditarik


Hari berikutnya Sebuah Mobil



Hari berikutnya lagi kerangka mobil


Dan begitu pun hari-hari berikutnya…

Tidak terbayang sebelumnya oleh Saya, kalau sampah-sampah tersebut ternyata jumlahnya sangat banyak, ketika pertama kali Saya melihat mobil ditarik dari sungai saya pikir itulah pertama dan terakhir kalinya Saya ngeliat mobil ditarik dari sungai.  Tapi ternyata saya telah salah menilai :(

Entah sampai kapan Tim ini akan selesai dengan pekerjaannya, karena tampaknya setiap kali saya lewat pinggir sungai ini, ada saja temuan-temuan terbaru dari Tim Pemburu Sampah Tsunami.

Bisnis Sampah Tsunami
Selain membersihkan sungai dari Sampah-sampah Tsunami, ternyata kegiatan bersih-bersih sungai ini juga mempunyai nilai bisnisnya loh ! Saya sendiri pernah liat ketika sebuah becak yang telah rusak ditimbang untuk nantinya di jadikan sebagai besi tua..



Bapak yang ini sedang bernegosiasi dengan para peminat becak

Akhirnya becak pun ditimbang untuk diukur berapa kilo.., waktu itu saya hanya dengar-dengar sedikit dan kalo tidak salah beratnya sekitar 150 kilo, namun sayangnya saya tidak berhasil mendapatkan berapa harga akhir-nya, karena waktu itu sudah mau maghrib jadi terpaksa deh keburu cabut ke Masjid Raya Baiturahman.. Jadinya ngga ada waktu untuk menunggu sampai keluar berapa becak itu jadi dijual..


Becak sedang ditimbang

Tapi yang pasti keuntungan tidak hanya dari becak saja…



kayaknya lagi dapet untung besar nih..

Disangka Wartawan
Ada kejadian yang cukup ‘menggelitik’ saya, yaitu ketika saya sedang sibuk dengan mem-foto-foto Sampah Becak tersebut, pada saat itu salah seorang yang ikut menimbang becak melihat saya sedang mengabadikan kegiatan menimbang sampah, dan beliau pun langsung berkata kepada saya yang kurang lebih seperti ini “Lon Bek Tameng Koran Beh!!” (artinya kira-kira : “Saya jangan dimasukkin ke Koran ya”..) mendengar itu, saya pun hanya tersenyum+tertawa dikit dan menjawab “hana bang!!” (artinya : ngga bang !!)

Tapi kalo masuk Blog boleh kan Bang ?? :)

Thursday, December 13, 2007

1 Tahun di Aceh & 1 Tahun Nge-Blog

Tak terasa 1 tahun sudah saya berada di Aceh, tepatnya (minggu lalu) hari Minggu tanggal 09 Desember 2007 kemarin adalah hari dimana saya telah menggenapkan 365 hari menjalani hidup di Aceh, “Muallaf di Kampung Sendiri” mungkin itulah gambaran singkat dari perjalanan saya selama satu tahun di Aceh.

Masih ingat dalam ingatan saya ketika awal-awal Ibu saya menyuruh saya untuk pergi ke Aceh, ketika itu Saya yang selama ini terdoktrin bahwa Jakarta adalah segala-segalanya langsung menolak keras perintah Ibu saya, bahkan ketika itu sempat terlontar dari mulut saya “Fatah kan bukan orang Aceh lagi !!!” (hampir saja saya murtad), ketika itu, saya yang lahir dan besar di Jakarta merasa bahwa saya ini adalah orang Jakarta ‘tulen’, Jakarta adalah tempat saya lahir, besar, hidup dan mati, titik !!

Sungguh ketika itu berat bagi saya untuk meninggalkan Ibukota, tetapi toh pada akhirnya saya nurut juga sama Ibu saya karena perintah orang tua bagaimana pun juga harus tetap dijalankan kan ?? hingga akhirnya saya membuat semacam perjanjian “win win solution” dengan Ibu saya, bahwa saya hanya akan ’stay’ di Aceh selama 3 bulan saja, tidak lebih dan tidak kurang. Dan misi utama saya adalah untuk menemani kakak yang sudah di Aceh duluan, dan juga mencari kerja ‘singkat’ setelah ‘kegagalan’ saya berwiraswasta ketika itu.

Namun, begitu sampai di Aceh, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan tanpa disadari berlalu begitu saja, MOU 3 bulan pun akhirnya gagal total !!, ada beberapa faktor yang membuat MOU itu gagal, pertama, ternyata selama 3 bulan, saya belum dapat pekerjaan, kedua tidak ada subsidi dari Jakarta untuk beli tiket pesawat balik ke Jakarta, dan faktor ketiga adalah karena Jatuh Cintanya saya sama Serambi Mekkah !!

Sangat sangat diluar dugaan sebelumnya, ternyata tidak butuh waktu lama untuk membuat saya Jatuh Cinta pada pesona Aceh, tiba-tiba saja saya begitu sangat enjoy dengan segala macam bentuk yang berbau Aceh, mulai dari saudara-saudara saya yang ternyata banyak banget !! budaya-nya, Mie Aceh-nya, Gempa-gempanya, situs-situs Tsunaminya, Rumah-rumah Acehnya sampai ke kehidupan pedesaan-nya.

Memang selama ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Banda Aceh (kota yang banyak Siti Nurhaliza-nya), tetapi bukan berarti saya hanya menikmati kehidupan kota-nya saja, karena setiap kali ada kesempatan untuk menjelajahi desa-desa saya tidak akan pernah menyia-nyiakannya untuk menikmati kehidupan pedesaan dan tentunya tidak lupa untuk mendokumentasikan-nya :)

Intinya sih.. “Aceh I’m In Love !!” dan itulah dorongan yang membuat saya seperti menjadi seorang Muallaf yang sedang belajar bagaimana caranya sholat dan mengaji, sekarang, saya mulai belajar bahasa Aceh sedikit demi sedikit, mulai mencari tahu budaya-budaya Aceh, mulai mendokumentasikan hal-hal yang berbau Aceh, dan yang saya harapkan sih.. melalui blog ini saya bisa mempromosikan ke semua orang bahwa Nanggroe Aceh Darussalam adalah provinsi yang damai, indah, penuh dengan sejarah gemilang, dan tentunya penuh dengan segala keunikannya.

1 Tahun Nge-Blog
Satu tahun di Aceh itu juga berarti 1 tahun sudah saya sudah menjadi seorang Blogger, Aceh dan Blog bagi saya adalah suatu hal yang tidak dapat terpisahkan, karena Aceh-lah saya jadi nge-Blog, dan dengan media Blog-lah saya me-record perjalanan saya selama di Aceh.

Walaupun sudah 1 Tahun nge-Blog, tapi rasa-rasanya saya ini masih belum apa-apa dibanding teman-teman sesama blogger lainnya, alasan pertama karena pengetahuan saya tentang blog yang masih sangat minim, akses internet yang masih sangat terbatas, jarang update dan masih banyak lagi kelemahan-kelemahan lainnya. Tapi toh dengan berbagai kelemahan tersebut Saya tetap nge-blog !

Karena pada akhirnya yang terpenting bagi saya adalah saya tidak kehilangan sejarah saya sendiri, kalau soal jumlah pengunjung adalah nomor ke-sekian. Syukur-syukur sih dua-duanya bisa dapat, karena jika memang banyak pengunjung, itu kan juga berarti banyak juga yang bisa melihat-lihat Aceh walaupun hanya kulitnya saja ^^

Memasuki tahun kedua, pastinya saya akan terus memperbaiki segala-galanya, mulai dari isinya, gaya penulisan, rutinas update, dan juga lebih giat lagi mengali cerita-cerita tentang hal-hal yang berbau Aceh, dan ter-khusus untuk “Aceh True Tsunami Story” saya sih berharap tahun ini bisa lebih banyak lagi dari tahun kemarin, karena tahun kemarin saya hanya bisa dapat dua cerita saja, “Save By The Jaguar” dan “Save By The Spiderman”. Doa kan saja mudah-mudahan tahun ini bisa dapat lebih banyak lagi…

Terakhir, saya ingin berterima kasih kepada seluruh teman-teman yang sudah sudi mampir ke Blog yang sangat ‘cupu’ ini, dan terima kasih juga atas jalinan pertemanannya walaupun kita harus dipisahkan oleh jaringan internet, sekali lagi “Trimong Geunaseh !!”

Keep on Blogging !!!


Note : Sebenarnya sih saya mulai nge-blog awal Januari tapi biar lebih gampang inget, disamain aja sama tanggal saya datang ke Aceh :)

Friday, December 7, 2007

Kenapa Labi-Labi Diaries ??

Pertanyaan akhir-akhir ini mulai muncul lagi dari beberapa teman saya, baik sesama blogger ataupun teman saya yang memutuskan untuk tidak nge-blog tetapi beberapa kali sempat mengunjungi blog ini, mereka rata-rata bingung bercampur heran ketika melihat judul Blog ini, “kok judul-nya Labi-Labi Diaries ya ??” walaupun sebenarnya sih lebih banyak pernyataan “Labi-Labi apaan sih ??” ^^

Oke ! First thing first, Labi-Labi itu pastinya bukan nama binatang, bukan juga nama makanan, Labi-labi itu…percaya atau tidak.. adalah nama sebutan buat Angkutan Umum di Aceh. Kalau di Jakarta ada Mikrolet, di Aceh punya Labi-Labi, dan kalau Mikrolet biasanya mobilnya Kijang, maka Labi-labi biasanya mobilnya bermerek Suzuki.

Bagi masyarakat Aceh, khususnya yang tidak memiliki kendaraan pribadi, Labi-Labi adalah pilihan dan sarana utama untuk menjelajahi kota, begitupun Saya. Bagi Saya Labi-Labi adalah bagian penting dari kehidupan Saya di Aceh, disaat banyak teman-teman Saya yang selalu menasehati Saya untuk membeli Sepeda Motor, namun saya tetap ngotot untuk tetap menjadi seorang pengguna setia transportasi umum dan juga sebagai seorang ‘pedestrian’ yang selalu riang dan gemira berjalan kaki ;) (keanehan saya no. 5..)

Dengan kata lain, Labi-labi adalah kendaraan yang selalu Saya andalkan untuk menjejelajahi Aceh, khususnya Kota Banda Aceh dan sekitarnya..

Oke..Sekarang kembali ke pertanyaan awal, “Kenapa Labi-Labi Diaries ??” sebenarnya sih jawabannya simple aja.. ceritanya berawal ketika pada awal-awal saya berniat untuk mulai nge-blog, ketika itu didalam pikiran saya sudah ada konsep untuk mengisi content blog ini dengan komposisi 99% content yang ada hubungannya dengan Aceh, dan setelah selesai urusan dengan konsep content, berarti tinggal menentukan judulnya dan register ke Blogger.

Nahh.. Pada saat-saat itulah saya mengalami kebimbangan untuk menentukan judul yang pas, awalnya sempat kepikiran untuk memberi judul seperti “My Aceh Stories”, “My Rencong Stories”, atau “My Nanggroe Stories”, tapi entah kenapa disaat-saat terakhir saya hampir memilih satu dari tiga kandidat judul tersebut, tiba-tiba saja, Saya berpindah haluan ke Judul lain.

Pada waktu itu secara tidak sengaja saya membaca kutipan dari sebuah buku yang isi-nya menjelaskan bagaimana seorang tokoh yang sangat terkenal menuliskan kisah perjalanan hidupnya ketika menjelajahi Amerika Selatan dengan sepeda motor-nya (motorcycle), dan kisah tersebut diabadikan dalam sebuah Diary yang pada akhirnya Diary tersebut diberi nama “Motorcycle Diaries” !!

Tapi jangan salah persepsi dulu..walaupun judul blog saya terinspirasi dari beliau, tapi saya ini bukan fans beratnya beliau loh.. bahkan saya pun tidak tahu banyak tentang beliau, tapi walaupun saya ini tidak tau apa-apa tentang tokoh yang satu ini, saya punya firasat, mungkin saja seandainya beliau dulu pernah menjelajahi Aceh dengan mengunakan Labi-Labi, bisa jadi Diary-nya juga akan berjudul “Labi-labi Diaries” :)

Sunday, November 25, 2007

Perang Lebaran (2) : Meriam Garut !!

Judul diatas tidak saya tambahkan kalimat “Cerita dari Rambong”, karena memang cerita ‘peperangan’ kali ini bukan berasal dari Desa Rambong, melainkan dari sebuah Desa di Pidie (masih kampung saya juga) yang bernama Desa Garut.

---

Ketika Lebaran tiba, tidak anak-anak saja yang memiliki tradisi “Perang Lebaran”, disini (Desa Garut) mulai dari anak-anak sampai orang tua pun terlibat dalam “peperangan” ini, tapi lagi-lagi tidak perlu khawatir, karena perang ini tidak akan menimbulkan korban nyawa, walaupun bisa jadi akan menimbulkan banyak “korban” rusaknya pendengaran.

Perang yang satu ini, walaupun tidak menggunakan peluru tajam, tapi bunyi yang ditimbulkan akibat perang ini bagaikan Bom Nagasaki-Hirosyima, perang yang saya maksud adalah “Perang Meriam Bambu !!” inilah perang-perangan ala Desa Garut, setiap kali Malam Takbiran datang, maka penduduk Desa ini selalu membuat Meriam Bambu yang walaupun tidak ada pelurunya tapi setiap kali Meriam ini dinyalakan maka siap-siap saja kita menutup kedua telinga kita serapat-rapatnya.


Meriam Bambu

Desa ini setau saya (belum yakin banget) dipisahkan oleh sebuah sungai, sehingga pertempuran antara dua kubu pun juga dipisahkan oleh sungai, yang satu disebarang sana yang satunya lagi disebelah sini, kalau diibaratkan mungkin seperti situasi Perang Dunia ke-2 dimana pasukan Sekutu berusaha merebut jembatan penting yang dipertahankan oleh pasukan Jerman.

Karena perang ini tidak memakai peluru, tolak ukur yang dipakai untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah ditentukan oleh siapa yang paling besar suara meriamnya, karena ini inti dari Meriam Bambu tersebut adalah menciptakan suara ‘BUUUUMMM !!!” se-keras-kerasnya !! indikatornya yang menjadi pemenang adalah tepukan para penonton (yang tidak hanya dari desa Garut saja karena pertunjukkan spektakuler ini juga menjadi tontonan bagi para penduduk desa-desa lainnya), siapa yang bisa menghasilkan suara paling besar maka penonton pun akan langsung memberikan applause, begitu pula sebaliknya siapa yang menghasilkan suara yang ‘melempem’, maka siap-siap saja diberi teriakan “Huuuuuuu….” oleh para penoton, tapi pada akhirnya sih sebenarnya tidak ada yang kalah dan yang menang karena semuanya hanya untuk senang-senang saja.


Anak-anak kecil juga dilibatkan loh !!!

Sebenarnya yang menjadi “Weapon of Mass Destruction” dalam perang ini tidak hanya meriam bambu saja, ada lagi yang senjata yang lebih powerful (tapi saya ngga ada fotonya), saya sendiri tidak tau nama senjatanya apa, yang saya tau hanya cara membuatnya, yaitu dengan membuat lubang ditanah dan ditanah tersebut akan ditanam sebuah “tong” yang didalam tong tersebut akan di isi karbit dan setelah terisi karbit langsung dinyalakan dengan obor.

Begitu dinyalakan, suara sekeras Bom Atom pun akan langsung Menggelegar !!! bukan hanya itu, senjata ini lebih dari sekedar menghasilkan bunyi keras saja, getaran yang diakibatkan oleh senjata yang ditanam ke tanah ini bisa menghasilkan “gempa lokal” bagaikan gempa berkekekuatan 3,5 scala richter (kira-kira) !! ini cukup membuat mobil-mobil disekitar, bangungan-bangunan disekitar dan juga jembatan disekitar arena pertempuran akan merasakan sedikit getaran..


Salah satu jembatan didekat arena pertempuran. Jika sedang lewat sini, siap-siap saja merasakan getaran disertai angin kencang bagaikan angin yang dihasilkan oleh kipas raksasa.

Sisi Negatif-nya
Perang ini memang penuh dengan adrenaline rush !! menyenangkan !! , dan tentunya sangat mengibur !! namun ada beberapa sisi negatif dari tradisi ini yang saya kurang setuju, pertama perang ini diadakan ketika malam takbiran, sehingga pada saat itu di Desa Garut suara Takbiran dimesjid-mesjid ataupun di Meunasah-Meunasah kalah telak dengan suara dari Meriam-meriam tersebut.

Yang kedua, perang ini memakan biaya yang cukup mahal, kalau menurut sepupu saya, hampir setiap pengusaha Garut yang merantau akan dimintai jatah sebesar 1-5 jutaan untuk dibelikan karbit !! dan jika diestimasi total biaya ini bisa memakan biaya sampai puluhan juta rupiah !! sayangkan jika uang-uang tersebut hanya menjadi ‘suara’ saja ?? Mungkin jika memang bangsa ini sudah makmur..bolehlah !! tapi kita kan belum makmur… :(

Mungkin jalan keluar terbaik adalah, pertama, adakan perang ini setelah malam takbiran, agar tidak mengganggu kegiatan takbiran di Masjid-Masjid atau di Meunasah-Meunasah, dan sebagai gantinya adakan suatu kegiatan yang lebih ‘takbiran’ atau lebih ke-arah ‘sedih’ kita ketika ditinggal Ramadhan, usulan saya yang kedua, jadikan kegiatan ini sebagai sesuatu yang menjual bagi para turis “domestik” atau jika mungkin turis “mancanegara”, sehingga uang yang dibeli untuk karbit dengan sendirinya akan balik modal dengan pendapatan dari para pedagang-pedangang Desa Garut yang berjualan kita para turis-turis itu mendatangi “War Zone”.

Tapi masalahnya emangnya ada yang mau dengerin usulan saya :(

Sunday, November 18, 2007

Cerita dari Rambong (6) : PERANG LEBARAN (1) !!!

Siapa bilang Aceh sudah damai !! buktinya setiap kali Lebaran datang, selalu saja terjadi peperangan antar Anak Desa !!
----

Beberapa tahun terakhir ini, sebagian wilayah Aceh memiliki tradisi baru yang cukup unik, yaitu Berperang ketika Lebaran !!! tapi tenang saja, walaupun berperang tapi tidak akan ada korban jiwanya, karena yang berperang itu Anak-anak Desa yang hanya bersenjatakan “senjata mainan” ^.^

Tapi permainan ini bukan permainan perang-perangan biasa !! karena Permainan ini melibatkan RATUSAN atau bahkan RIBUAN (hiperbola dikit) anak Aceh, dan uniknya walaupun jumlah pemainnya sangat banyak, namun permainan ini tidak menjadi kocar-kacir (tidak beraturan), justru sebaliknya permainan ini sangat terorganisir, karena para pemainnya membuat kelompok-kelompok kecil yang biasanya pengelompokannya berdasarkan asal Desanya masing-masing.

Kemudian kelompok-kelompok kecil itu nanti dengan sendirinya akan membuat 2 Tim Besar !! Tim yang Pertama adalah “Tim Penyerbu”. Tim Penyerbu adalah Tim yang akan melintasi jalan-jalan raya dengan kendaraan tempurnya (bisa becak, mobil pickup, labi-labi, atau dump truck) untuk mencari para “musuh”, dan ketika sudah bertemu dengan “musuh” tentunya serangan secara sporadis pun akan segara dilancarkan oleh Tim Penyerbu.

Laskar Rambong dengan kendaraan tempurnya (becak) siap untuk menyerbu “musuh” dari desa-desa lain…

Selain becak, mobil pick up juga bisa jadi kendaraan tempur..

Sedangkan Tim yang kedua adalah “Tim Penyergap” tim ini tidak menggunakan kendaraan tempur, namun mereka secara berkelompok biasanya menunggu di pinggir-pinggir jalan di depan desanya untuk siap-siap menyerang “Tim Penyerbu” yang sering melintas dengan kendaraan tempurnya.

Tim Penyergap siap menyergap Tim Penyerbu yang sering melintas di jalan dengan kendaraan tempurnya…

Sehingga begitu kedua Tim ini bertemu dijalan maka baku tembak pun tak terelakkan lagi, dan untuk menambah suasana lebih berbau peperangan, tidak sedikit dari prajurit-prajurit ‘cilik’ yang membawa petasan banting, sehingga bunyi-bunyi petasan ditambah dengan baku tembak peluru-peluru plastik rasanya sudah cukup membuat mereka serasa berada dalam “Perang Dunia ke-3”.

Pemandangan unik ini dapat disaksikan selama Libur Lebaran, dan jalur yang paling “rawan” adalah jalur Banda Aceh-Medan yang jaraknya bisa puluhan kilometer atau mungkin ratusan kilometer, di jalur ini hampir setiap beberapa ratus meter saja pasti ada saja terjadi ‘peperangan’ antar kedua kubu (tim), makanya saya tidak berlebihan jika menyebutkan jumlah pemainnya bisa mencapai Ratusan atau bahkan Ribuan Anak, karena memang permainan ini sudah menjadi semacam tradisi di sebagian wilayah Aceh yang selalu diadakan setiap kali Liburan Lebaran datang.

Jadi kalau begini terus !! kapan Aceh bisa damai donk ?? ^^