Sunday, July 15, 2007

Partai Lokal di Aceh !

Salah satu yang membedakan Aceh dengan provinsi-provinisi lain di Indonesia adalah otonomi ’super’ khusus yang didapat oleh Provinisi Nanggroe Aceh Darussalam, salah satu ke Istimewaannya adalah dibolehkannya mendirikan Partai Lokal (Parlok) di Aceh. Perjanjian MOU Helsinki lah yang akhirnya membolehkan dibentuknya Partai Lokal di Aceh.

Yang membedakan Partai Nasional dengan Partai Lokal adalah Partai Lokal hanya dapat menempatkan para Calon Anggota Legistatif (Caleg) nya untuk duduk di DPR Kabupaten & Provinsi Saja, namun tidak dapat menempatkan kadernya di DPR Pusat (senayan). Partai Lokal juga tidak bisa ikut dalam pencalonan Kandidat Presiden RI *setau saya sih gitu*, yang boleh hanyalah pencalonan untuk kandidat Gubernur Aceh atau Pimpinan Kepala Daerah seperti Walikota dan Bupati saja *namanya juga lokal*. Landasan hukum pembentukan partai lokal sendiri adalah UU Pemerintahan Aceh No. 11 PP No. 20 Tahun 2007.

Partai GAM *tanpa kepanjangan*
Partai Lokal inilah yang sekarang sedang menjadi buah bibir nasional, pembentukan partai ini diawali ketika para anggota KPA (Komisi Peralihan Aceh) sebuah organisasi yang dibentuk untuk menampung para mantan Anggota GAM mendeklarasikan sebuah Partai Lokal yang bernama Partai GAM (tanpa kepanjangan), walaupun GAM hanyalah sebuah kata yang menurut Pihak KPA sendiri tidak mengandung singkatan “Gerakan Aceh Merdeka” alias hanyalah sebuah kata “GAM”, namun logonya yang sama persis dengan logo “Gerakan Aceh Merdeka” lah yang menjadikan pihak ‘Jakarta’ menaruh kecurigaan.

Apalagi peristiwa deklarasi partai tidak jauh dengan perisitiwa pengibaran bendera RMS oleh penari Uku lele *bener ngga tulisannya?*, dan juga pengibaran Bendera Bintang Kejora di Papua, Isu ‘Separatisme’ model lama pun menguak dan menjadi isu yang ‘heboh’ di Jakarta (pusat).

Inilah yang membuat Pemerintah Pusat ketar-ketir, banyak tokoh-tokoh yang tidak setuju ! namun ada juga yang setuju-setuju saja dengan pelabelan GAM !, liat saja berita di Detik.com ataupun berita-berita di TV di Koran, pokoknya banyak banget yang ngebahas Partai GAM.

Namun uniknya, kami yang ada di Aceh, justru tidak menjadikan peristiwa ini sebagai peristiwa yang menghebohkan ! jujur aja warga disini ngga terlalu tertarik untuk memperbincangkan masalah ini. Kebetulan saya sempat bertanya kepada salah seorang teman kakak saya Bang Hardi namanya, kalau kata Bang Hardi “ Kami orang Aceh sudah bosan dengan suasana konflik ! ketika konflik dulu kita ngga bisa kemana-mana !, kegiatan-kegiatan terhenti !, keselamatan jiwa terancam !, suasana mencekam ! Dah sekarang perdamaian telah membuat kita menjadi manusia yang bebas dari itu semua !, makanya ketika isu Partai GAM muncul, kami-kami pun tidak mau ikutan-ikutan untuk memperdebatkannya ! yang penting bagi kami adalah perdamaian ! udah itu aja !”

Walaupun memang di dalam MOU Helsinki terdapat perjanjian untuk tidak menggunakan simbol-simbol GAM pasca penandatangan damai, namun reaksi yang terlalu berlebihan dan juga kecurigaan yang terlalu besar dari Pemerintah Pusat juga bukanlah hal yang bijak dan patut dilakukan oleh Pemerintah Pusat !

Bagi saya sendiri yang keturunan Aceh, apapun nama Partai dan apapun Logonya nanti, yang terpenting adalah adanya kepastian bahwa tidak adanya unsur Militerisme, Kekerasan, ataupun Intimidasi dalam proses pendirian dan pengembangan Partai Lokal di Aceh. Untuk itu niat baik pihak GAM untuk melakukan perubahan perjuangan dari sebelumnya Perjuangan Militer ke Perjuangan Politik tentunya harus bisa disambut baik dan juga didukung oleh Pemerintah Pusat !

Mungkin peristiwa ini hampir sama dengan yang terjadi di Palestina, dimana Hamas akhirnya membentuk Partai Politik dan bahkan berhasil memenangkan Pemilu dengan telak ! namun berbeda HAMAS, jika GAM akhirnya demi Perdamaian Rakyat Aceh, mau berdamai dengan NKRI, lain cerita dengan HAMAS yang tetap konsisten tidak mau menggakui keberadaan Israel walaupun harus menghadapi embargo dunia internasional ! *hidup HAMAS !*

Partai GAM *jika memang akhirnya disahkan dan apapun namanya nanti* mungkin nantinya bisa menjadi Partai Lokal yang sangat diperhitungkan di Aceh, lihat saja Pilkada Aceh yang lalu, Gubernur yang terpilih dengan perolehan suara 40 % lebih, adalah Bang Irwandi Yusuf , yang merupakan mantan juru bicara GAM. Dan bukan hanya Gubernur saja, hampir seluruh Pilkada untuk pemilihan Bupati pun di menangi oleh calon yang berafiliasi dengan GAM. Bisa dibilang Pilkada Aceh yang lalu, GAM Menang Telak !

Jika tanpa kendaraan politik saja *jalur independent* para calon yang berafiliasi dengan GAM bisa memang telak ! apalagi jika nanti ada kendaraan politiknya ! atau bisa jadi malah sebaliknya ! bisa jadi warga Aceh lebih suka memilih pasangan dari jalur Independent daripada jalur Partai Lokal ? sepertinya hanya sang waktu lah yang bisa menjawabnya :)

Untuk lebih jelasnya mending pada nonton aja METRO REALITAS di MetroTV, senin 16-july-2007, pkl : 22.30 Temanya "GAM ! apa mau mu ?"

Note : saya sengaja tidak memasang image logo GAM, karena saya tidak mau dianggap melanggar MOU Helsinki ^_^;;

Partai Lokal Lainnya
Kedepan ! diprediksikan di Aceh akan banyak bermunculan Partai-Partai Lokal lainnya, ada yang mau mengusung isu Gender ! atau ada juga yang mau mengusung Syariat Islam sebagai landasan perjuangan. Berikut ini profil sangat sangat singkat 4 partai Lokal lainnya yang saya tau !

(1) Partai Aceh Aman Seujahtra (PAAS)
Partai ini adalah Partai Lokal yang berbasiskan Islam, tokoh pendirinya adalah Ghazali Abbas Adan, seorang tokoh Aceh yang pada Pilkada Aceh lalu juga ikutan dalam pencalonan Gubernur Aceh. Logo partainya adalah Gambar Peta Aceh ditengahnya ada Qur’annya trus ada lingkarannya ! pokoknya mencerminkan asas Islam banget deh ! berita lengkapnya baca disini.

(2) Partai Rakyat Aceh (PRA)
Kalo partai ini, logonya merah banget dan ada bintang kuning ditengahnya *kebayang ngga?*, rata-rata kader partainya adalah mantan aktivis mahasiswa, perjuangan yang mereka bawa lebih ke paham anti Kapitalisme ! saya awalnya tau tentang partai ini, ketika awal-awalnya Partai ini dideklarasikan, ketika itu dijalan-jalan *Banda Aceh* banyak terpasang bendera-benderanya.

Saya sendiri pun sudah pernah Nebeng *dianter pulang* & ngobrol-ngobrol sedikit dengan Presiden Partainya, karena kebetulan Presiden Partainya adalah teman sepupu saya :) tapi saya lupa namanya siapa ya ?

Namun yang menjadi keraguan dari saya adalah apakah gaung partai PRA hanya di Banda Aceh saja ? atau memang benar-benar mengakar ke Wilayah-wilayah Aceh lainnya ?

(3) Partai GABTHAT
Partai Gabthat mempunyai singkatan (Geuneurasi Aceh Beusaboh Tha‘at dan Taqwa), artinya kira-kira Generasi Aceh Yang Taat dan Taqwa ! dan "Gabthat" sendiri kalo ngga salah punya arti “Kuat Sekali!” *kalau ngga salah loh !* lebih lengkap baca sendiri disini. Maklum saya ngga banyak tau tentang Partai ini ^_^;;

(4) Partai Aliansi Rakyat Aceh (PARA) Peduli Perempuan
Partai yang berbasiskan Perempuan ini, punya semangat untuk menghidupkan kembali peran Perempuan Aceh dalam perjuangan Rakyat Aceh. Mereka pun hampir dipastikan akan menggunakan Jargon-jargon historis seperti “Cut Nyak Dhin, Cut Mutia, Teuku Fakinah, ataupun Laksamana Keumala Hayati “ yang mereka semua adalah para Inong *perempuan* Aceh yang telah menjadi contoh Kepahlawan Inong Aceh !.

Namun yang jadi pertanyaan, akankah isu gender yang dijadikan sebagai prinsip Partai ini akan membuat rakyat Aceh, terkhusus bagi para inong *perempuan* Aceh akan memberikan suara nya ? kita lihat saja nanti ! untuk berita lengkapnya baca disini.

Note : saya tidak memasang image logo Partai Lokal lainnya *selain GAM* bukan karena saya ngga mau dianggap melanggar MOU, tapi memang saya kagak punya file imagenya ^.^

Kepanjangan Tangan Partai Nasional
Setelah adanya peraturan yang membolehkan adanya Partai Lokal, Partai-Partai nasional pun merasa terancam keberadaannya ! karena dari Partai Nasional muncul kekhawatirkan bahwa muatan kedaerahan (lokal) bisa jadi lebih bisa diterima oleh masyarakat Aceh yang sebagian sudah ‘bosan’ dengan janji-janji pemerintah pusat ! dan bisa jadi Partai Nasional bisa dianggap sebagai ‘sesuatu’ yang berasal dari Pemerintah Pusat.

Hal ini membuat beberapa Partai Nasional mencoba untuk merumuskan (menganalisa) akan perlu atau tidaknya pembentukan Partai Lokal yang berafiliasi ke Partai Induknya (Partai Nasional), namun tampaknya sampai sekarang belum ada sinyalmen yang kuat untuk itu.

Saya sendiri baru mendapatkan 2 berita mengenai reaksi Partai Nasional dengan adanya kesempatan pendirian Partai Lokal di Aceh, yang pertama, Partai Demokrat (PD) yang sempat membahas akan pendirian Partai Lokal yang akan berafiliasi dengan PD. Berikut ini beritanya

Dan yang berita kedua adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sudah mengeluarkan statement resmi dari Pimpinan Pusatnya bahwa mereka tidak akan membuat Partai Lokal, sebagai kepanjangan tangan PKS, berikut ini beritanya.

Yang jadi pertanyaan besar adalah bagaimana nantinya kiprah Partai-Partai Lokal yang harus berhadapan dengan hegemoni Partai-Partai nasional ?

kita tunggu saja tanggal mainnya di Pemilu 2009 mendatang ! *masih lama oi :)

11 comments:

CempLuk said...

sbrnya saya kurang setuju partai GAM ini karena melanggar kesepakat di helsinki (wedew..kok cempluk jadi pengamat politik y..hehehe)..udah jelas2 GAM telah diberi kebebasan salah satu nya adanya calon gubenur dari bukan non partai ato independen, eh.malah skrg nama GAM muncul lagi.

Fatah said...

*cempluk : Wiihh sejak kapan nih bang cempluk jadi pengamat politik ^_^

mungkin itu salah satu kekurangan dari MOU Helsinki ! tidak adanya point MOU yang menyatakan GAM dibubarkan ! :(

Dew said...

Wadooow... masuk "wilayah peka" jadi binun mo komen apa.:)
Titip salam hormat aja buat T. Sofyan Dawood, bisa? :)

Fatah said...

*dew : "wilayah peka" ? wahh kalo mau nitip salam kayaknya susah deh ! soalnya bang Sofyan Dawood ngga punya blog sih :)

mashuri said...

gubernur sekarang khan dari GAM...?

kalo saya setuju, selama untuk kesejahteraan seluruh rakyat dan bebas dari intervensi asing...

mkasudnya setuju ada Partai Lokal..

kalo atribut, biar UU yang bicara...

Nona Nieke,, said...

kalo gitu knapa namanya juga pake nama Gam dan bendera Gam..?


visi dan misinya bener2 beda, kan dengan GAM (dengan kepanjangan) yg dulu itu..???

Fatah said...

*mashuri : gubernur sekarang khan dari GAM...? -- iya betul ! gubernur skrg. Irwandi Yusuf adalah mantan juru bicara GAM.

Sedangkan Wagubnya Muhammad Nazar adalah mantan aktivis SIRA (Sentral Informasi Referendum Aceh) organisasi yang sejalan dengan GAM.

kalo atribut ,biar UU yang bicara -- Saya juga setuju !

nieke* : Sebenarnya "GAM" itu belum bubar secara total ! mereka lebih ke mengganti 'baju' ke "KPA", dan sekarang ingin membentuk partai GAM *tanpa kepanjangan* yang orang-orangnya 90 % masih orang2x dulu ! hanya sekarang perjuangannya lebih ke arah Perjuangan Politik bukan Militer.

Kalo Visi/Misinya, pastinya yang tercantum adalah untuk meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Aceh ! tapi apakah ada Visi/Misi terselubung ? Wallahualam deh !

Anisa said...

kalau dah masuk wilayah partai...ampyun deh....daku nyerah dan males ngomonginnya...semua bikin pusing.

Elvi said...

Wuah enakan baca artikel disini daripada di Serambi he he he... thanks buat infonya Fatah! Biasanya kalo aku pulkam bukan berpolitik tapi bergosip jumpai temen2 lama... duh kangen brat ama bu sie kameng nya bang Hasan nih! Tau kan, itu lho yang dekat jembatan Lamnyong!!!

Fatah said...

*anisa : hahaha.. sama nih ! aku juga pusing ^_^;;

*elvi : "bu sie kameng" artinya "nasi gule kambing" ya ? aku soalnya jet bahasa aceh jih bacut-bacut, alias manteng belajar :)

nanti deh maen2x ke Lamnyong !

Kalo lagi maen2x ke Aceh, kasih tau ya :)

murni said...

Maaf saya mau koreksi sedikit, beberapa hal tentang partai lokal. 1. lambang PRA sepertinya bukan bintang putih tetapi bintang koning